"Bacalah
dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (1)" begitulah bunyi ayat
Al-Qur'an pertama yang turun sebagai wahyu kepada Rasul ketika beliau menyendiri di Gua Hira. Muhammad SAW
sebagai pembawa risalah kepada umat mendapatkan wahyu pertamanya melalui
malaikat jibril yakni untuk membaca. Bahwa dengan membaca kita tahu disanalah
awal mula kita dapat mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan.
Aktivitas membaca ini biasa kita dapatkan di sekolah-sekolah dan tempat-tempat pendidikan lainnya, meskipun di sekolah tidak hanya aktivitas membaca saja yang dilakukan. Yang menarik, membaca adalah kebiasaan yang dibentuk oleh lingkungan, orang-orang yang tidak mendapatkan kebiasaan membaca dari keluarga dan pergaulannya hanya dapat mengharapkan sekolah dan tempat pendidikan untuk memperkenalkan kebiasa itu pada mereka.
Ironisnya
pendidikan di Indonesia masih terdapat banyak masalah, mulai dari banyaknya
yang putus sekolah, sarana dan prasarana pendidikan yang minim, biaya
pendidikan yang tinggi, dan bahkan persebaran sekolah-sekolah yang belum merata
keseluruh pelosok negeri. Ditambah lagi dengan perubahan-perubahan kurikulum
menjadikan skema pendidikan yang seolah pelik dan menjemukan menambah catatan
buruknya kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Kewajiban
pertama pemerintah selaku penyelengara pendidikan mestinya menjamin setiap
orang untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang baik dan bermutu, terlepas
dari latar belakang ekonomi dan sosialnya masing-masing. Karena sumber daya
manusia yang terdidik merupakan aset terbaik yang dimiliki negara nantinya.
J.V. Snellman, seorang negarawan Finlandia menyatakan bahwa pendidikan ialah
jaminan keamanan. Dan benar saja, bahwa sampai saat ini Finlandia masih
memegang gelar sebagai negara dengan pendidikan terbaik di dunia versi World
Economy Forum. Itu semua adalah hasil kesungguhan pemerintah Finlandia dalam berinvestasi dibidang
pendidikan.
Maka pemerintah harus memperhatikan pendidikan
di Indonesia, selalin itu dana APBN yang sudah dianggarkan harus direalisasikan
benar-benar agar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Dilain hal
tentunya dengan keterbatasn yang ada, aktivitas membaca adalah budaya yang
agung nan luhur yang perlu kita lestarikan. Sejatinya itu menjadi modal kita
untuk siap menghadapi tantangan dan perkembangan zaman. Dengan membaca kita
memiliki pengetahuan dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain.
Bagus Alfatah selaku Kordinator
Advokasi Kajian dan Analisa Keterbukaan Informasi Publik (Kaki Publik)




0 komentar:
Posting Komentar