Jakarta, KantinPers - Pendidikan diyakini sebagai kunci kemajuan
suatu bangsa dan menjadi isu yang selalu menarik untuk dikaji. Hal tersebut
terlihat dari banyaknya pembahasan oleh berbagai kalangan, khususnya di hari
guru nasional yang bertepatan pada 25 November sabtu ini.
Indonesia, dengan potensi sumber
daya alam (SDA) melimpah bisa menjadi modal untuk menjadi salah satu Bangsa
yang maju serta bermartabat. Potensi SDA yang besar tersebut tidak berarti
tanpa dukungan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kreatif dan memiliki
visi yang jelas dan terarah untuk kemajuan Bangsa.
Dari sinilah peran pendidikan
dalam menjadikan manusia Indonesia berkualitas memainkan peranan penting.
Terkait peranan vital pendidikan
serta persoalannya, Koordinator Investigasi Kajian dan Analisa Keterbukaan
Informasi Publik (KAKI PUBLIK) Wahyudin ikut bersuara.
Dalam perbincangan sore tadi di
Jakarta, Wahyudin berpendapat “Dalam perjalanannya peranan pendidikan yang
dipraktikan baik itu Pemerintah pusat atau Pemerintah daerah tidak semulus yang
diharapkan. Muncul pelbagai persoalan dan menjadi PR bersama. Ia mencontohkan,
adanya kesenjangan pendidikan antara yang berjalan di kota-kota besar seperti
Jakarta dengan daerah pinggiran seperti Kabupaten Bekasi, Kabupaten Indramayu
atau yang lebih miris lagi daerah nan jauh disana Papua, terang Wahyudin sambil
neruput kopi.
Wahyudin menambahkan, kesenjangan
yang paling menohok bisa dilihat dari sarana dan prasarana “infrastruktur
sekolah”, jika dibandingkan fasilitas sekolah yang ada di kota-kota besar
dengan daerah tertinggal ibarat bumi dan langit, tegasnya.
Padahal anggaran pendidikan yang
di gelontorkan pemerintah setiap periodenya meningkat, tetapi belum sepenuhnya berdampak pada
pemerataan infrastruktur sekolah di Indonesia.
Wahyudin mengingatkan, dalam
Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang “Standar Nasional
Pendidikan”, antara lain diatur terkait standar sarana dan prasarana (sarpras),
bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana dan prasarana yang
meliputi ruang kelas untuk pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Namun apa yang terjadi di
lapangan, terdapat 152.000 ruang kelas yang rusak dan tidak sesuai dengan
standar yang di tetapkan oleh pemerintah. Keadaan ruang kelas yang tidak layak
ini didominasi oleh sekolah-sekolah yang terdapat di wilayah pinggiran atau
pedesaan, bayangkan saja 98 persen dari total ruang kelas rusak ada di pedesaan, tegas Wahyudin. Hal
ini menjadi tamparan bagi pemerintah dalam sektor pendidikan di Indonesia,
geram Wahyudin menutup perbincangan sore tadi.
Kantinpers - Wahyudin
selaku Koordinator Investigasi Kajian dan Analisa Keterbukaan Informasi Publik
(KAKI PUBLIK).




0 komentar:
Posting Komentar